Keputih, 12 Juni 2014

Selepas sholat Shubuh tadi, aku berjalan pulang ke rumah dengan santai. Beberapa jama'ah lain turut membuntutiku pulang dari belakang. Sesampainya di depan rumah, aku membuka gerbang, masuk dan hendak menutupnya. Di saat itu, seorang kakek yang bernama (seingatku) Qomaruddin berjalan mendekat ke arahku. Aku membatalkan niat menutup gerbang, lalu membukanya kembali. Aku menjabat tangannya, hingga beliau memulai pembicaraan.
"Kalau Shubuh, lampu yang dinyalakan yang ini saja,"
Beliau menunjuk sebuah lampu yang berada di atas kepalaku, yang agak sedikit ke belakang, itulah lampu yang paling dekat dengan jalan.
"daripada lampu yang itu."
Beliau lalu menunjuk satu-satunya lampu yang menyala di teras rumah, lampu yang jaraknya lebih dekat dengan pintu rumah daripada dengan jalan. Pikiranku segera mengalir cepat. Dari tiga lampu yang ada di teras rumah, hanya itulah satu-satunya lampu yang bisa menyala, yaitu lampu yang disebutkan terakhir oleh sang kakek, yang paling jauh dari jalan. Sedang dua lainnya tidak bisa menyala karena yang satu tidak ada lampunya, dan yang satunya mati karena short circuit.
"Oh, iya pak."
Balasku pada kakek, yang tidak sanggup aku memanggilnya "kakek", tersebut. Aku menjawab singkat tanpa menjelaskan mengapa hanya lampu itu yang dinyalakan.
"Ini juga ibadah."
Kakek tersebut menambahkan. Sepertinya beliau mengerti bahwa kepekaan sosialku semakin menurun.

Apakah lampu yang dimaksud kakek tadi besok akan menyala atau tetap mati seperti hari-hari sebelumnya? coba besok tengok di Keputih Gg II no 36, Sukolilo, Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah pesan formulir komentar