Hari itu aku mengisi waktu dengan bersih-bersih lahan di belakang rumah, yang berbatasan langsung dengan sawah. Lahan tersebut memang tidak terlalu lebar namun cukup rimbun. Beberapa pohon tumbuh di sana diantaranya adalah pohon kluwih, waru, mangga, nangka, jambu, randu, dan lamtoro. Hanya ayam, musang, burung, kadal, katak, serangga dan hewan-hewan kecil yang kadang bersantai dan mencari makan di sana.

Hal yang ingin aku bersihkan dari lahan itu adalah ranting-ranting kecil dan tanaman yang tidak diharapkan tumbuh di sana. Agar tanaman yang diharapkan-dapat-tumbuh-dengan-baik tidak terganggu dan mendapat pasokan sinar matahari yang cukup. Dengan menggunakan sabit, aku mulai melakukan pembersihan.

Setelah beberapa saat, aku berhenti sejenak karena ibuku memintaku untuk mengantar beliau ke terminal Sidowayah. Setelah kembali dari terminal dan sampai di rumah, rasa malas agak memberatkan kakiku untuk menyelesaikan pembersihan yang telah aku mulai. Namun, ternyata aku melanjutkannya.

Sudah tiga per empat lahan yang aku bersihkan. Saat hendak mengumpulkan potongan-potongan ranting menuju satu tempat. Aku melihat ke bawah, ada sesuatu yang berwarna hijau berada tepat di depanku. Aku tidak terlalu kaget karena aku sudah menduga kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dan ternyata itu benar-benar terjadi, aku berhadapan dengan ular. Sebenarnya aku tidak berhadapan-badan dengan si ular, karena si ular agak membelakangi diriku. Ular tersebut berwarna hijau dengan ekor berwarna merah. Ular tersebut masih anak-anak, ukuran badannya tidak cukup besar, kepalanya sebesar jari kelingkingku, leher dan badannya sebesar pensil 2B, dan panjangnya sekitar panjang sendok makan. Aku menyebutnya ular Luwuk, dalam bahasa Indonesia adalah ular Bangkai Laut, dan nama ilmiahnya adalah Trimeresurus albolabris.

Mengapa aku begitu tahu tentang ular ini? Karena ular jenis inilah yang dulu pernah menggigitku saat aku masih berada di kelas tiga SD (Sekolah Dasar), gigitan yang menyebabkan luka perih 17 tahun yang lalu. Dulu ceritanya saat aku masih bocah. Saat itu waktu shubuh dan aku hendak mengambil sandal yang ada di kamar untuk wudhu. Karena lampu kamar tidur sudah mati, aku tidak melihat apapun. Tanpa sengaja aku menginjak tubuh si ular,  dan aku digigitnya. Dalam masa penyembuhan, aku dirawat di rumah sakit Sragen selama sekitar satu pekan dan harus absen sekolah. Sekian, begitulah ceritanya.

Kembali ke lahan belakang rumah dalam momen menangkap ular. Dengan sabit yang aku bawa, aku hendak menahan kepala ular agar tidak mampu menggunakan gigitannya. Ular berbisa memang tidak terlalu agresif, mereka memiliki bisa (racun) sehingga mereka tidak langsung kabur ketika menghadapi ancaman dan dalam keadaan bahaya. Perlahan-lahan aku gerakan punggung sabit menuju kepala ular, dan dia tetap diam saja. Hingga akhirnya, hap, kepala ular berhasil aku tekan. Badan dan ekornya berusaha melilit sabit yang menahannya, tapi tidak bisa. Aku ragu apakah sebaiknya langsung aku bunuh atau tidak. Akhirnya aku putuskan untuk menangkap ular hidup tersebut, sebelum membunuhnya. Aku menangkapnya dengan kedua tanganku, ini adalah salah satu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku pun memasukkan ular itu ke dalam botol air mineral yang dilubangi untuk sirkulasi udara.
Anakan ular Luwuk yang aku tangkap


Trimeresurus albolabris (https://id.wikipedia.org/wiki/Ular_bangkai_laut)
Setelah ular tertangkap, aku berhenti melalukan pembersihan lahan belakang rumah dan memilih mengamati ular Luwuk. Dari apa yang pernah aku baca ternyata ular berbisa memang memiliki deretan gigi-gigi kecil dan dua taring yang lebih besar yang tersembunyi di bawah rahang atasnya. Dan dua taring besar inilah yang membedakan antara ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa akan meninggalkan dua lubang pada bekas luka. Setelah pengamatan dirasa cukup, aku meninggalkan botol-yang-berisi-ular di atas lemari. Hingga sore belum aku bunuh karena rasa penasaranku dalam mengamatinya belum puas.

Di malam harinya aku membaca tulisan-tulisan tentang perintah membunuh ular. Dan aku mendapati jika bertemu ular di luar rumah, seorang muslim wajib membunuh ular. Dan Rasulullah tidak pernah berdamai dengan ular.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tidaklah kami pernah berdamai dengannya (ular) sejak kami memusuhinya, maka barangsiapa yang membiarkannya lantaran rasa takut, maka ia tidak termasuk golongan kami.”

[HR Abu Daud, Hasan Shahih: Al Misykah (4139)]
Keesokan pagi sekitar pukul 8:00 WIB, aku mengeluarkan ular dari botol, lalu memukul kepalanya dengan sekali pukulan yang keras. Dan... ular pun binasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah pesan formulir komentar