Malam itu, beberapa saat setelah sholat Isya, terdengar suara yang mengagetkan masyarakat di sekitaran Keputih Perintis gang III. Beberapa orang berdiri dan mencari tahu apa dan dimana sumber suara itu muncul. Didapatinya, di dekat sumber suara itu, beberapa bocah tertawa.Duarrrrrrrr...
"Heeeh!!! Gawe kaget wong ae!!!"Seorang ibu setengah baya keluar dari warungnya dan berteriak pada bocah-bocah itu. Tanpa pikir panjang, bocah-bocah itu pun segera berlari menjauhi sang ibu. Beberapa bocah lain segera mengambil barang-barangnya yang tertinggal dan ikut berlari.
Setelah sang ibu masuk ke dalam warungnya, ganti seorang bapak-bapak keluar dari warung yang sama. Dia berdiri di tengah jalan dan beberapa kali berteriak dengan keras.
"Hooooooeehh!!!"Dia berteriak pada bocah-bocah yang masih berlari menjauh. Beberapa bocah (sepertinya) sudah lelah berlari dan memilih untuk berjalan saja. Melihat hal tersebut, sang bapak mencoba menakut-nakuti mereka. Dia berlari dengan kencang beberapa langkah. Ada bocah yang melihat hal itu, dia memperingatkan teman-temannya yang berjalan agar turut berlari. Bocah-bocah pun kembali berlari, dan apa yang dilakukan bapak tersebut? Dia berhenti sambil berdiri memandangi mereka. Hingga saat bocah-bocah hampir menghilang dari pandangannya, dia membalikkan badan dan berjalan kembali ke menuju warung.
Aku, yang sedari tadi memperhatikan mereka dari depan kamarku di lantai 2, tersenyum lebar. Hal itu mengingatkanku pada masa kecilku. Suatu masa, dimana nakalku hampir sama seperti mereka, bahkan lebih parah. Petasanku bahkan telah membakar semak-semak, namun, untunglah ada yang datang memadamkannya.
Saat aku hendak kembali masuk ke kamarku, aku mencium sesuatu yang sangat aku kenal sejak kecil, aroma dari reaksi belerang dan beberapa senyawa kimia lain, aroma dari petasan yang telah meledak. Aroma itu membawa pikiranku menerawang cepat ke masa laluku, ke masa kecilku. Ah, betapa cepat waktu berputar, rasanya baru beberapa hari kemarin aku bermain petasan itu, dan kini aku sudah 22 tahun. Alangkah cepatnya waktu berputar, sebentar lagi sudah Ramadhan, kawan.
Petasan pertama telah meledak.
Marhaban ya Ramadhan,
jika Engkau mempertemukan kembali kami dengan Ramadhan-Mu, Ya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ini adalah pesan formulir komentar