Repost dari blog eru.web.id yang lama.
Dipercaya karena telah berpengalaman.
Dipercaya karena tidak ada orang lain yang dirasa mampu.
Hari itu, Rabu tanggal 9 Ramadhan 1434 Hijriyyah, adalah hari tentang kepercayaan. Kepercayaan berasal dari kata percaya, dan mendapat imbuhan ke-an. Dalam kamus bahasa Indonesia, arti kata percaya adalah

  • menerima dan mengakui suatu kebenaran dan kenyataan;
  • menganggap kejujuran terhadap seseorang;
  • yakin terhadap suatu kelebihan atau kemampuan orang lain;
  • yakin beriman pada Tuhan.

Sedangkan arti kata kepercayaan adalah keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar dan nyata.

Beberapa hari yang lalu, pulanglah seorang bocah jurusan teknik kelistrikan dari perantauannya. Di rumah orang tuanya, dia melihat kamar mandi yang tidak ada lampunya. Terbesit niat untuk memasangkan lampu di kamar mandi yang baru saja diperbaiki itu.
“Arek listrik, gak bisa nginstal lampu kamar mandi? Apa kata istri dunia nanti?.” pikirnya.
Dimintalah ijin pada ibunya, agar diperkenankan untuk memasangnya. Namun tanpa diduga, ibunya secara tersirat menolaknya. Beliau lebih percaya pada putera pertamanya.
“Kamu bisa masang?” tanyanya.
“Bisa.” dengan berlagak sok confident
“Biarlah abangmu nanti yang memasang. Beberapa hari lagi dia bakal pulang.” jawabnya.
“Ya sudahlah.” kalimat yang keluar setelah berpikir beberapa detik 

***** 

Malam itu sungguh malam yang dingin. Mendung yang siang tadi berarak-arakan, kini menghilang dan menampakkan langit malam yang berhiaskan bintang-bintang dan bulan. Masih bertahan angin malam yang bertiup ke sana ke mari sejak pagi tadi. Lampu jalan yang digantung diatas jalan, bergoyang-goyang mengikuti kemana perginya arah angin. Dia menerangi beberapa orang yang hendak pergi ke musholla. Di musholla yang kecil, para jamaah berdatangan untuk melaksanakan ibadah sholat Isya dan Tarawih. Beberapa orang duduk di shaf paling depan, salah satunya adalah pemilik mushola tersebut. Dia melihat-lihat ke kanan, kiri dan belakangnya, seperti mencari sesuatu. Melihat seorang pemuda yang dikenalnya duduk tepat di belakang dirinya, dia langsung menyalaminya dan memintanya untuk maju ke shaf di depannya, di dekat dirinya.
“Sampean dadi bilal ya?” dia memulai pembicaraan.
Informasi dari bapak itu diterima oleh reseptor telinga pemuda dengan baik. Lalu sinyal bunyi itu diubah menjadi impuls dan dikirim ke otak. Otak pun memprosesnya, sampean = kamu, dadi = jadi, bilal = ??? apa itu bilal? Algoritma di otak bekerja, sepertinya kali ini algoritma Greedy yang jalan. Setelah sepersekian detik akhirnya paham juga pemuda akan apa yang dikatakan tadi.
“Hah? jadi bilal? Yang menyerukan “apa namanya itu” ##bener-bener lupa apa namanya## saat hendak sholat tarawih dan witir itu?” batin pemuda itu.
Otak lalu merespon dengan memberikan jawaban dan dikirim ke lidah.
“Maaf, Pak. Belum bisa.” 
Tanpa membalas, bapak itu menoleh ke arah lain.

***** 

Ya, itulah cerita hari ini, cerita tentang kepercayaan. Manusia dipercaya karena pengalaman (track record)nya yang bagus. Dan yang manusia dipercaya karena dia satu-satunya yang dianggap mampu di saat itu dan di tempat itu, dan karena yang lainnya, yang lebih mampu darinya, tidak berada di waktu itu dan tempat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah pesan formulir komentar