(oleh Muhammad Ibnu Sarrar al-Yami)

"Mengaku diri paling baik adalah puncak kesombongan. Bukan keharusan bagimu untuk mendapatkan nilai yang mumtaz (istimewa) dalam ujian akademis atau kamu memperoleh ranking paling jelek saat nilai ujian diumumkan, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana kamu menjadi sosok yang brilian dengan ketenangan jiwa dan kerendahan hati.

Ketahuilah, barang siapa yang selalu melihat segala sesuatu yang ada di atasnya, sesuatu itu pasti akan menjatuhi wajahnya. Maka, jadilah orang yang melakukan sesuatu sesuai kadar kemampuan. Itulah kunci kesuksesan dan kebahagiaan.

Jika kamu sedang menghadapi ujian yang sulit, tentu kamu mengerjakannya dengan gelisah, Lalu, kamu katakan pada dirimu sendiri, bahwa kamu akan mendapatkan nilai yang kurang bagus. Maka, ketika pengumuman hasil ujian tiba, kamu mendapati nilaimu turun, dan kamu tidak terkejut dengan nilai yang kamu peroleh, karena kamu sudah meyakinkan dirimu sebelumnya.

Begitu juga jika kamu gagal dalam ujian, kamu tidak akan shock. Karena kamu sebelumnya telah memberi tahukan pada dirimu sendiri tentang kemungkinan yang terburuk. Dapatkah kamu memahami apa yang saya maksud?

Bagaimana jika saya membantumu merajut prinsip hidup dalam dirimu. Prinsip tersebut sebagai berikut,
“Tidak menjadi keharusan bagiku untuk mendapatkan nilai terbaik. Akan tetapi, yang menjadi kewajibanku adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin.”
Dengan prinsip ini, kamu akan meneguk kesuksesan dengan penuh kebahagiaan dan kemuliaan (insyaa Allah). Kamu akan mampu mengubah kegagalanmu menjadi kemajuan, kegemilangan, dan kesuksesan dengan rasa percaya diri yang matang. Jangan terbenam dalam penyesalan karena nilai yang kurang memuaskan, hal itu akan melumpuhkanmu menggapai kesuksesan di masa mendatang.

Putuskan dalam dirimu, bahwa kamu akan mengganti kegagalan itu dengan nilai yang membanggakan di hari yang akan datang. Dengan keyakinan itu, kamu akan mampu mengukir prestasi gemilang dalam hidupmu.

Yakinlah, bahwa kamu bukanlah orang yang hina dan lemah. Kecuali kamu sendiri yang menginginkannya. Oleh karena itu, silakan pilih mana yang cocok untuk dirimu sendiri.

Setelah itu, jangan mengejek atau memarahi orang di sekitarmu, karena kegagalan yang mereka alami. Sebab, tidak ada satu orang pun yang akan terus menerus menjadi manusia gagal. Sungguh, saya berusaha mengajakmu untuk bangkit dari penyesalan dan dari tidur yang panjang.

Jika kamu jatuh di tengah jalan, maka jadikanlah kegagalan itu sebagai anak tangga kesuksesan dan sebagai pendorong dirimu untuk menggapai cita-cita yang telah diimpikan."

Cikarang Barat, 8 Maret 2016

eR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah pesan formulir komentar