Sebenarnya introspeksi diri (atau bahasa kerennya muhasabah diri) baik dilakukan setiap hari, di penghujung hari, saat hendak tidur. Agar kesalahan-kesalahan yang dilakukan di hari tersebut tidak terulang pada esok hari. Namun, aku belum bisa melakukannya setiap hari, tiap pekan juga belum bisa, bahkan tiap bulan juga tidak. Dan kini tahun 2014 Masehi hampir berakhir, marilah kita bermuhasabah, mencatat segala dosa dan kesalahan, dan membangun komitmen untuk tidak mengulanginya di tahun-tahun berikutnya sampai saat Allah menghentikan detak jantung kita.

Pada tulisan ini, tulisan yang aku tulis setelah empat bulan vakum menulis blog, akan diketahui tiga cara untuk bermuhasabah. Awalnya hendak aku tulis segala dosa-dosaku selama setahun ini, namun aku urungkan, untuk apa menuliskan berbagai kebodohan diri dan menyebarkannya pada orang-orang.
Kata ustad Yasri, "orang bodoh yang sesungguhnya itu adalah orang yang berilmu (pengetahuan) / tahu kebenaran namun dia tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Dan aku termasuk orang yang bodoh.
Ya Allah, berilah hamba-Mu petunjuk, agar hamba tidak lagi menjadi orang yang bodoh.
Ada tiga cara bermuhasabah adalah :
  • Bercermin
    Hadapkan dirimu di depan cermin, itu adalah cara terbaik dalam bermuhasabah.
    Kalau di rumah tidak ada cermin, tak apa. Karena inti dari bercermin adalah berbicara dengan diri sendiri, untuk mengetahui lebih dalam tentang diri, baik tentang kesalahan, kekurangan, kelebihan, potensi, ataupun hal-hal lain yang perlu diketahui. Sebagaimana dikatakan,
    Kenalilah dirimu dengan baik, karena musuh-musuhmu telah mengenalmu dirimu dengan sangat baik.
  • Menyendiri
    Menyendirilah, luangkanlah waktu untuk diri sendiri. Saat-saat menyendiri adalah saat-saat yang tepat bagi seseorang untuk memikirkan tentang dirinya sendiri dengan leluasa. Berbeda jika beberapa orang berada di sekeliling, terkadang tanpa disadari, pikiran akan fokus untuk memperhatikan dan menanggapi orang-orang di sekeliling, walaupun kita tidak mengininkannya. Entah itu dengan mendengarkan, melihat, mencium aroma, maupun hal lainnya.
  • Lihat dan dengar
    Orang-orang memperoleh pengalaman dari apa-apa yang masuk ke dalam panca inderanya.
    Al-Qur'an dan Hadits yang dibaca, pengajian yang didengarkan, Aqidah Akhlak yang diperhatikan, pejajaran agama Islam dan kewarga negaraan yang diajarkan dari SD sampai kuliah, itu adalah bentuk pengalaman-pengalaman. Dari pengalaman tersebut orang-orang seharusnya mampu membedakan mana batas antara kebaikan dan keburukan.
    Manusia adalah tempatnya salah dan lupa
    Namun, bukan syahwat namanya jika tidak mengajak melewati batas. Hingga terkadang orang-orang melakukan dosa karena mereka telah melewati batasannya. Dari pengalaman tersebut, cobalah untuk meluruskan dan menetapkan kembali batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. 
Sebagai penutup, marilah kita cermati al-Quran Surah Al-Hasyr (59) ayah 18 ini :
يَا أَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖوَاتَّقُوااللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Tafsir Mufradat:
وَلْتَنظُرْ
:Hendaklah setiap orang memiliki berkesediaan untuk melakukan evaluasi diri, agar dirinya tahu tentang jati dirinya sendiri.
قَدَّمَتْ
:Apa yang telah berlalu di masa lampau. Yaitu: “perbuatan apa pun yang pernah dilakukannya”.
لِغَدٍ
:Untuk kepentingan masa depannya. Baik dalam pengertian duniawi maupun ukhrawi.

Kebenaran hanya milik Allah SWT

Sumur ; satuduatigaempat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah pesan formulir komentar